Selasa, 05 Maret 2013

Dakwah dan Hambatannya


Waraqah bin Naufal, orang Qurays pertama yang menyadari kenabian Muhammad saw, ketika bertemu dengan beliau dan istrinya Khadijah ra. yang tidak lain adalah sepupu Waraqah, ia memberi wejangan dengan berkata, “Kau akan didustakan orang, akan diperlakukan buruk, dan mereka akan mengusirmu, bahkan memerangimu!" (Martin Lings, MUHAMMAD: 68).
Begitulah kira-kira gambaran takdir seorang yang “terpilih” menjadi juru dakwah. Bahkan sampai saat ini, para manusia yang memilih jalan yang sama, yaitu menjadi juru dakwah, akan menemui tantangan-tantangan yang serupa. Jalan dakwah adalah jalan yang penuh dengan rintangan, hal tersebut disebabkan karena tujuan dari dakwah itu sendiri bukanlah satu hal yang remeh, yaitu membangun dan mengokohkan satu bangunan yang begitu agung bernama Islam.
Dari pengalaman pribadi penulis, banyak hambatan dalam berdakwah yang dialaminya. Perbedaan sosial seperti, status sosial, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan yang kesemuanya itu disebut sebagai Hambatan Sosial termasuk kepada hambatan yang terbesar yang menghalangi dakwahnya. Ia harus bisa menyesuaikan dirinya, baik sikap, tutur kata, penampilan dan lain sebagainya sesuai dengan keadaan sosial masyarakat yang ia dakwahi. Agar misi dakwah yang diembannya mudah merasuk pada pribadi setiap orang.
Kemudian, masih ditambah dengan hambatan-hambatan lain semisal hambatan dari diri penulis pribadi, karena bahasa keseharian penulis berbeda dengan bahasa masyarakat dakwahnya, sehingga ada beberapa kosa kata yang dipahami keliru oleh mereka (Hambatan Semantis). Hambatan lainnya adalah semisal sulitnya sarana dan prasarana yang terdapat di medan dakwah, karena medan dakwah termasuk daerah terpencil yang jauh dari kota. (Hambatan Mekanis).
Seluruh hambatan-hambatan tersebut, terutama hambatan terbesar yaitu Hambatan Sosial, sebenarnya dapat teratasi, hanya memerlukan beberapa waktu untuk proses penyesuaian diri sambil mengamati dan menganalisa medan dakwah.  Proses tersebut juga tergantung kepada pribadi pendakwah itu sendiri, apakah ia mampu dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan dakwahnya ataukah ia cenderung lebih tertutup sehingga membuatnya sulit untuk menyesuaikan diri.
Pribadi yang luwes, terbuka, peka terhadap keadaan lingkugan, dan cepat tanggap dalam mensikapi berbagai keadaan adalah skill yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap da’i. Selamat berjuang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar